Load more

MULTIKULTURALISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM

(Studi terhadap UIN Yogyakarta, IAIN Banjarmasin, dan STAIN Surakarta) Oleh: Agus Moh. Najib, Ahmad Baidowi, Zainudin
Abstrak

Penelitian ini hendak menunjukkan apakah tiga PTAI, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Antasari Banjarmasin dan STAIN Surakarta, sebagai sampel institusi pendidikan, telah mengembangkan pembelajaran yang berwawasan multikultural. Aspek yang dijadikan perwakilan elemen multikultural dalam penelitian ini adalah persoalan identitas, kebebasan berekspresi dan berkeyakinan serta proses pencerdasan. Hasil riset menunjukkan UIN Sunan Kalijaga, secara kelembagaan, menjadi model perwujudan semangat multikultur dengan adanya berbagai lembaga atau pusat studi, baik di tingkat universitas maupun di tingkat fakultas, yang mendialogkan Islam dengan berbagai realita sosial budaya dan berbagai isu lokal, nasional, regional maupun global yang berkembang. Secara akademik IAIN Antasari menjadi model pembelajaran bagaimana mendialogkan Islam dengan realita sosial budaya yang ada serta apresiasi positif lembaga pendidikan Islam terhadap budaya lokal. Sementara itu, dalam program pengabdian kepada masyarakat, STAIN Surakarta menjadi terdepan dalam penerapan model “KKN transformatif” yang menerapkan PAR dan PRA sebagai ikhtiar memberdayakan masyarakat.

Kata Kunci : Multikulturalisme, Perguruan Tinggi Islam, Transformasi Sosial

A. Pendahuluan
Indonesia, melebihi kebanyakan negara-negara lain, merupakan negara yang tidak saja multi-suku, multi-etnik, multi-agama tetapi juga multi-budaya. Kemajemukan tersebut pada satu sisi merupakan kekuatan sosial dan keragaman yang indah apabila satu sama lain bersinergi dan saling bekerja sama untuk membangun bangsa. Namun, pada sisi lain, kemajemukan tersebut apabila tidak dikelola dan dibina dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu dan penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Peristiwa Ambon dan Poso, misalnya, merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja jiwa dan materi tetapi juga mengorbankan keharmonisan antar sesama masyarakat

Indonesia.1 Maka, disinilah diskursus dan implementasi multikulturalisme menemukan tempatnya yang berarti dan tentu saja pendidikan menjadi satu faktor penting. Perguruan Tinggi Agama Islam yang berada dibawah Departemen Agama memiliki tanggung jawab besar dan peran strategis dalam mengembangkan pendidikan Islam berwawasan multikultural. Hal ini disebabkan PTAI tersebut merupakan lembaga pendidikan tinggi yang banyak mencetak agamawan dan intelektual Muslim. Disamping itu, peserta didik dari PTAI kebanyakan berasal dari pesantren, salah satu lembaga pendidikan yang erat secara emosional dan kultural dengan masyarakat akar rumput. Untuk itu, lulusan PTAI menjadi sangat strategis dalam perannya mengembangkan pendidikan Islam yang berwawasan multikultural. Atas dasar itu, menarik untuk diteliti sejauh mana PTAI telah melaksanakan pembelajaran yang berwawasan multikultural kepada para mahasiswanya, yang setelah lulus nantinya akan berkiprah di tengah masyarakat yang majemuk. Multikulturalisme di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sangat urgen untuk diteliti, mengingat lulusan PTAI akan berkiprah di tengah masyarakat majemuk Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Penelitian ini terfokus pada UIN Sunan Kajijaga Yogyakarta, IAIN Antasari Banjarmasin dan STAIN Surakarta. Permasalahan pokok yang menjadi fokus penelitian ini adalah: apakah ketiga perguruan tinggi itu sudah mengembangkan pembelajaran yang berwawasan multikultural?, dimana persoalan identitas, kebebasan berekspresi dan berkeyakinan serta proses pencerdasan diberi tempat di dalam: i) Kelembagaan dengan fokus perhatian pada peraturan-peraturan internal kampus; ii) Pendidikan dan pengajaran yang meliputi kurikulum, silabi, tenaga pengajar dan proses pembelajaran, dan iii) Pengabdian masyarakat, yaitu berupa program-program yang telah dan akan dijalankan. Metode yang digunakan adalah: observasi, yakni dengan ikut ambil bagian dalam proses pembelajaran, wawancara terhadap dosen, mahasiswa, serta pejabat-pejabat di lingkungan perguruan tinggi dan metode dokumentasi, yakni dengan mengumpulkan dokumen-dokumen, baik berupa data tulisan atau gambar yang memiliki relevansi terhadap penelitian ini.
Lihat dan dapatkan dokumen ini melalui link berikut : KLIK

0 komentar:

Post a Comment